# Belanja Senyap: Pengadaan Kemhan/TNI 2022–2026

*Sumber: **SiRUP LKPP** (seluruh Rencana Umum Pengadaan KLPD "Kementerian Pertahanan", 640 ribu paket, 2022–2026) dan **dasbor realisasi INAPROC** (11.618 transaksi ≥ Rp1 M plus total tahunan dari ringkasan dasbor). Ditarik 1 Okt 2026. Swakelola 2022 tidak tersedia di SiRUP publik. Tahun 2026 masih berjalan.*

*Lingkup: belanja **pengadaan** barang/jasa/konstruksi. Gaji dan tunjangan prajurit tidak lewat SiRUP, sehingga totalnya lebih kecil dari pagu Kemhan dalam APBN.*

---

## Ringkasan

| | 2022 | 2023 | 2024 | 2025* | 2026 |
|---|---|---|---|---|---|
| Rencana pengadaan (RUP) | Rp62,7 T | Rp71,2 T | Rp68,3 T | Rp67,2 T | Rp79,6 T |
| — lewat **tender** | 41,0% | 13,4% | 13,2% | **10,4%** | 12,9% |
| — **penunjukan langsung + dikecualikan** | 46,6% | 60,7% | 55,8% | 55,2% | 45,0% |
| Realisasi tercatat (INAPROC) | Rp28,2 T | Rp45,4 T | Rp42,9 T | Rp36,5 T* | Rp21,4 T (berjalan) |
| — realisasi / rencana | 45% | 64% | 63% | 54% | 27% |
| Transaksi ≥ Rp1 M dengan **penyedia tak teridentifikasi** | 52% | 57% | 49% | 44% | 2% |

\* 2025 tanpa sembilan transaksi placeholder alutsista @Rp10 T (lihat Temuan 2).

**Pokoknya:** sejak 2023, hanya sekitar satu dari delapan rupiah pengadaan Kemhan/TNI yang direncanakan lewat tender terbuka. Lebih dari separuh lewat penunjukan langsung atau dikecualikan dari aturan pengadaan. Pada transaksi besar, sekitar separuh nilai tidak mencantumkan siapa penyedianya.

---

## Analisis lanjutan (2 Okt 2026): alutsista samar, konsentrasi penyedia, utang BBM

*Data tersimpan; SiRUP dan dasbor INAPROC memblokir akses sejak 2 Okt. Rincian ada di `kemhan_lanjutan.xlsx`.*

### L1. Pos alutsista yang disamarkan adalah catatan pembukuan, bukan jejak kontrak
- **17 paket RUP alutsista/alpalhan ≥ Rp1 T tanpa penyedia**, total pagu **Rp131,6 T** (2022–2026), semuanya di Baranahan/Baloghan Kemhan.
- Setiap paket yang "terealisasi" punya **satu transaksi bernilai persis sama dengan pagunya** (100%), lewat **"Pencatatan Non Tender"** (diinput sendiri oleh satker, bukan proses pengadaan di sistem), dengan penyedia "xxx" dan status "Kontrak Selesai/Serah Terima". Realisasi tercatat Rp118,2 T.
- Pemetaan terhadap PMK 143/2018 Pasal 83:

| Kelompok | Paket | Pagu | Bisa dijelaskan dengan Rekening Dana Cadangan Alutsista? |
|---|---|---|---|
| "RM Alutsista" (rupiah murni), 2025–2026 | 9 | Rp91,5 T | **Mungkin**, bila produksi luar negeri dan kontrak sudah efektif. Catatan: paket 2026 "alutsista (RM dan PDN)" Rp11,5 T mencampur keduanya dan belum terealisasi |
| "PDN Alutsista"/"Alpalhankan (PDN)", 2022–2025 | 5 | Rp32,3 T | **Tidak.** Ps. 83 ayat 3 huruf c mensyaratkan produksi luar negeri |
| "Optimalisasi Alpalhan", "Optimalisasi Puslaplahan", "Kebutuhan Mendesak" | 3 | Rp7,8 T | Tidak jelas dari nama |

- **Implikasi:** untuk pos RM, Kemhan wajib punya rekapitulasi kontrak (nomor, tanggal, nilai total, sisa) bila dananya dipindahkan ke rekening dana cadangan (Ps. 85 ayat 4). Untuk pos PDN, mekanisme itu tidak tersedia, sehingga harus ada kontrak dan BAST biasa. **Kedua jenis dokumen inilah yang dimintakan dalam daftar permohonan KIP** (lembar "1 Daftar permohonan KIP", 24 paket termasuk 7 paket BBM).

### L5. Konsentrasi penyedia per satker
Dihitung dari transaksi ≥ Rp1 M dengan penyedia bernama badan usaha (rekening atau satker sendiri dikeluarkan).

| Satker | Nilai | Penyedia teratas | Pangsa teratas | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| SMIN Kasau (TNI AU) | Rp129 M | Bavan Lestari | **100%** | satu-satunya penyedia |
| Kopaska Koarmada RI | Rp264 M | Mitra Sekawan Nusantara | **76%** | 3 penyedia teratas = 97% |
| Pusdatin Kemhan | Rp656 M | Turangga Pranadita | **61%** | 46% nilai satker penyedianya tak teridentifikasi |
| Puspenerbal (TNI AL) | Rp845 M | Indonesia Defence Services | 48% | 3 teratas = 93% |
| Makodam IV/Diponegoro | Rp144 M | Asa Karya Perdana | 48% | |
| Rumkital dr. Ramelan | Rp984 M | Dimensi Citra Semesta | 45% | 45% nilai penyedianya tak teridentifikasi |
| Mako Kormar | Rp705 M | Kartika Anugerah Indonesia | 39% | |
| Ditjen Pothan Kemhan | Rp276 M | Korea Aerospace Industries | 38% | cost share KF-X/IF-X |

Satker dengan pangsa satu penyedia > 40% dan penyedia tak teridentifikasi tinggi (Pusdatin Kemhan, Rumkital dr. Ramelan) adalah sasaran pertama profil penyedia (rencana B1).

### L7. Utang BBM memakan hampir separuh anggaran BMP 2025

| | 2022 | 2023 | 2024 | 2025 | 2026* |
|---|---|---|---|---|---|
| Rencana BMP (RUP) | Rp6,2 T | Rp11,9 T | Rp8,1 T | Rp8,6 T | Rp4,3 T |
| — untuk utang/tunggakan tahun lalu | 0% | **29%** | **32%** | **49%** | 0% |
| Realisasi ke Pertamina (bernama) | Rp2,2 T | Rp4,4 T | Rp2,3 T | Rp0,01 T | – |
| Realisasi penyedia tak bernama | Rp2,4 T | Rp5,8 T | Rp3,3 T | **Rp5,7 T** | Rp0,1 T |

\* 2026 berjalan.

- **TNI AL** paling berat: tunggakan BMP Rp1,24 T (2023), Rp1,05 T (2024), dan **Rp3,19 T (2025)**, yaitu 58% dari rencana BMP TNI AL 2025 (Rp5,48 T).
- **TNI AU** membayar "Hutang BMP TA 2019, 2020, 2021, 2022" Rp1,6 T (2023), lalu "Hutang BMP TA 2022" Rp825 M (2024). Utang empat tahun ditumpuk sebelum dibayar.
- **TNI AD**: "Pembayaran Hutang BMP TA 2022" Rp498 M (2024) dan "TA 2022 dan 2023" Rp782 M (2025).
- **Pada 2025, nama penyedia BBM hilang dari catatan realisasi.** Pertamina tidak lagi tercatat (Rp0,01 T), sementara Rp5,7 T BBM tercatat tanpa nama penyedia.
- PMK 143/2018 tidak memuat mekanisme khusus tunggakan BBM. Pertanyaan liputan: berapa total utang BBM TNI ke Pertamina per akhir tahun, dan apakah pagu BBM sengaja dipasang di bawah kebutuhan.

---

## Temuan 1 — Tender menjadi pengecualian

- Porsi tender dalam rencana pengadaan **jatuh dari 41% (2022) ke 13% (2023–2024) dan 10% (2025)**.
- Yang naik adalah metode **"Dikecualikan"** (Rp1,4 T pada 2022 → Rp16,1 T pada 2024 → Rp18,7 T pada 2026) dan **e-purchasing/katalog** (Rp0,6 T → Rp20,9 T).
- **Penunjukan langsung** stabil di Rp17–29 T per tahun.
- Aturan pengadaan memang membolehkan pengecualian dan penunjukan langsung untuk kebutuhan pertahanan dan keamanan tertentu. Persoalannya adalah skala: pengecualian sudah menjadi jalur utama, bukan lagi jalur khusus.

## Temuan 2 — Rp90 triliun alutsista tercatat sebagai angka bulat tanpa penyedia

- RUP dan realisasi 2025 Baloghan Kemhan memuat **sembilan paket "RM Alutsista", "RM Alutsista 2–8", dan "PDN Alutsista 1", masing-masing tepat Rp10 T**. Metodenya **"Dikecualikan"**, penyedianya **"xxx"**, dan statusnya **"Serah Terima"**.
- Total Rp90 T ini menggelembungkan "realisasi" pengadaan Kemhan 2025 di INAPROC menjadi Rp126,5 T. Angka bulat seperti ini hampir pasti **placeholder pagu**, bukan kontrak sungguhan. Konsekuensinya, data publik tidak bisa dipakai untuk mengetahui alutsista apa yang dibeli, dari siapa, dan berapa harganya.
- Pola serupa muncul di tahun lain: "Alutsista PDN" Rp6,33 T (2022, penunjukan langsung), "Belanja Alutsista PDN" Rp7,48 T (2023), "Alpalhankan dan Pendukungnya (PDN)" Rp6,71 T (2024), "Optimalisasi Alat Peralatan Pertahanan" Rp3,5 T (2024), "Kebutuhan Mendesak" Rp1,95 T (2022), dan untuk 2026 **"alutsista (RM dan PDN)" Rp11,52 T lewat penunjukan langsung**.
- **BUMN industri pertahanan (Pindad, PAL, PTDI, Len, Dahana) tidak satu kali pun tercatat sebagai penyedia** pada transaksi ≥ Rp1 M. Ini sangat janggal mengingat merekalah pemasok utama "PDN" (produk dalam negeri), sehingga kontrak mereka kemungkinan besar berada di balik penanda "xxx" dan "Terkonfirmasi".

## Temuan 3 — Separuh transaksi besar tanpa nama penyedia

- Pada transaksi ≥ Rp1 M, **Rp14–24 T per tahun (44–57% nilai)** mencatat penyedia sebagai "xxx", "-", kosong, **"Terkonfirmasi"**, atau **"Terintegrasi"**.
- **"Terkonfirmasi"** hampir seluruhnya milik **Mabes TNI AU 2023–2024**, senilai Rp9,38 T dan "Dikecualikan". Contohnya: test bench radar SHORAD (Rp149 M), konsol VIP C-130J (Rp129 M), perbaikan SIP pesawat C-130 (2 × Rp125 M), sistem radio taktis lanud, dan lab siber Kodiklatau.
- Pada 2026 porsinya turun ke 2%. Ini bisa berarti perbaikan pencatatan, atau sekadar karena pengadaan besar tahun ini belum terealisasi. Perlu dicek ulang di akhir tahun.

## Temuan 4 — Utang BBM menumpuk: Rp10 T "tunggakan" dan "hutang" BMP

- Pengadaan BMP (bahan bakar minyak dan pelumas) bernilai **Rp4–12 T per tahun**, hampir semuanya lewat penunjukan langsung. **Pertamina Patra Niaga** adalah satu-satunya penyedia bernama yang besar (Rp8,9 T), sisanya tercatat tanpa nama.
- **Sebagian anggaran BMP dipakai untuk membayar utang tahun-tahun sebelumnya: Rp3,5 T (2023), Rp2,6 T (2024), dan Rp4,2 T (2025)**. Contohnya:
  - TNI AU, "Hutang BMP TA 2019, 2020, 2021, 2022": **Rp1,6 T** (RUP 2023), lalu "Hutang BMP TA 2022" Rp825 M (2024).
  - TNI AL, "Tunggakan BMP" setiap tahun: Rp1,24 T (2023), Rp1,05 T (2024), dan **Rp2,91 T (2025)**.
  - TNI AD, "Pembayaran Hutang BMP TA 2022 dan 2023": Rp782 M (2025).
- Pola ini menunjukkan **kebutuhan BBM operasional yang konsisten di atas pagu**, dengan selisihnya digulirkan ke tahun berikutnya.

## Temuan 5 — Penunjukan langsung ke perusahaan swasta: Rp15,3 T

Di luar Pertamina, ada **1.052 transaksi penunjukan langsung ≥ Rp1 M dengan penyedia bernama, senilai Rp15,3 T**. Beberapa penyedia menerima lebih dari satu paket besar:

| Penyedia | Paket | Nilai |
|---|---|---|
| PT Armadani Permata Kusuma | 8 paket sistem komando/navigasi: AOTC, NOTC, APVC (Mabes TNI, 2024), Naval Positioning Maneuvering System, Integrated Platform Management System | Rp697 M (seluruh metode) |
| PT Turangga Pranadita | Command Center dan Sisfo Diklat Badiklat Kemhan (2022) | Rp399 M |
| PT Surya Manunggal Wisesa | Pembangunan Kogabwilhan I dan III (2023) | Rp203 M |
| Tuah Naga Sakti–Banua Gemilang KSO | RS dr. Suyoto Pusrehab Kemhan (2023; RUP Rp604 M, "Dikecualikan") | Rp360 M |
| Konsorsium CV Surya Kencana Utama dkk. | Kapal PC-60 TNI AL, tahun jamak 2022–2024 | Rp300 M (tahun ke-3) |
| Konsorsium CV Arum Jaya Abadi dkk. | Kapal PC-40 TNI AL, tahun jamak | Rp252 M (tahun ke-3) |
| PT Kartika Anugerah Indonesia | Reactive Marine Jammer, Kormar (2024) | Rp197 M |
| PT Kilau Permata | Teropong thermal, NVG, GPS untuk BTP Marinir (2025) | Rp200 M (total semua paket Rp307 M) |

Catatan: kapal perang tahun jamak dikerjakan oleh **konsorsium yang dipimpin CV**. Hal ini perlu dicek terhadap kualifikasi badan usaha untuk pekerjaan sebesar itu.

## Temuan 6 — Konstruksi bernilai triliunan "dikecualikan" dari tender

Konstruksi berlabel "Dikecualikan" naik dari Rp0,3–1,3 T per tahun menjadi **Rp6,8 T pada 2025**:
- **SMA Taruna Nusantara** di IKN, Sumatera, dan Sulawesi Utara: **3 × Rp539 M (2025)** ditambah Rp266 M (2026), semuanya rancang-bangun yang dikecualikan. Kontraknya dipegang konsorsium PT Pilar Cadas Putra, PT Multi Karadiguna, PT Trikarsa Adi Guna, dan PT Naurah Dinamika Nusantara.
- **Special Force Training Facility Batujajar** (Rp424 M) dan **Sarana Latpur TNI Situbondo** (Rp414 M), keduanya 2025.
- Pengecualian ini wajar untuk instalasi rahasia, tetapi **sekolah menengah** dan **rumah sakit** sulit dikategorikan sebagai rahasia pertahanan.

## Temuan 7 — Koperasi TNI sebagai penyedia

- Pada transaksi ≥ Rp1 M, koperasi milik TNI (Puskopal Kodiklatal, Primkopal RSPAL dr. Ramelan, Primkop Kartika, dll.) menerima Rp0,1–0,3 T per tahun.
- Pada transaksi kecil, contoh acak tahun 2025 menunjukkan banyak sekali pembelian dari **Primkop Kartika** dan koperasi satuan: ATK, nasi kotak, sampai "OPSLAT – Latsat". Satuan membeli dari koperasinya sendiri, yang pengurusnya juga prajurit.
- Porsi koperasi di seluruh transaksi (ratusan ribu per tahun) belum bisa dihitung karena dasbor tidak menyediakan filter penyedia. Langkah lanjut: tarik seluruh transaksi kecil, atau sampel per satker.

## Temuan 8 — Komposisi per unit organisasi (rencana)

| Unit | 2022 | 2023 | 2024 | 2025* | 2026 |
|---|---|---|---|---|---|
| TNI AD | Rp25,8 T | 18,8 | 21,6 | 22,7 | **27,9** |
| TNI AL | 9,2 | 15,2 | 14,7 | 16,3 | 8,3 |
| TNI AU | 11,2 | 13,9 | 12,6 | 6,9 | 7,1 |
| Kemhan (pusat, Baranahan/Baloghan) | 11,9 | 13,9 | 14,0 | 14,9* | 21,9 |
| Mabes TNI | 3,9 | 0,5 | 0,7 | 1,3 | 1,9 |

\* Kemhan 2025 tanpa placeholder Rp90 T. Rencana TNI AU turun hampir separuh sejak 2025, sedangkan TNI AD naik ke rekor pada 2026, sejalan dengan pembentukan Batalyon Teritorial Pembangunan dan Kodam-Kodam baru.

---

## Batas dan risiko data

1. **Pengadaan ≠ seluruh anggaran.** Belanja pegawai dan sebagian belanja yang dibayar lewat mekanisme lain (pinjaman luar negeri dan pembayaran langsung) tidak masuk SiRUP/INAPROC atau masuk sebagai placeholder.
2. **Realisasi INAPROC = transaksi pengadaan tercatat**, bukan SP2D/pencairan. Kontrak tahun jamak dan placeholder bisa membuat angka melenceng.
3. Transaksi < Rp1 M tidak ditarik per baris; totalnya hanya dari ringkasan dasbor.
4. Pemetaan unit organisasi berdasarkan nama satker. Sebagian masuk "lainnya" (mis. Kodam, Lantamal dengan penamaan tak baku).
5. **Tidak ada klaim pelanggaran.** Penunjukan langsung dan pengecualian punya dasar hukum untuk sektor pertahanan; laporan ini memetakan skala dan ketertutupannya. Klarifikasi perlu dimintakan ke Kemhan (Baranahan/Baloghan), Mabes TNI, dan LKPP.

## Langkah verifikasi berikutnya

1. **Alutsista "xxx":** cocokkan dengan daftar kontrak di LK Kemhan/LHP BPK dan pengumuman kontrak BUMN (Pindad, PAL, PTDI).
2. **Utang BMP:** minta rincian ke Pertamina dan Kemhan; cek temuan BPK tentang utang BBM TNI.
3. **Penyedia berulang** (Armadani Permata Kusuma, Turangga Pranadita, Surya Manunggal Wisesa, Kilau Permata): cek AHU (akta, pemegang saham, pengurus), lalu kaitkan dengan pejabat atau purnawirawan. Ikuti standar bukti dan cantumkan bantahan.
4. **SMA Taruna Nusantara dan RS dr. Suyoto:** minta dasar pengecualian dan dokumen kontrak lewat permohonan informasi publik.

*Data per transaksi ada di `kemhan_tni.xlsx` (lembar: Ringkasan realisasi, Metode, Unit organisasi, Penyedia teratas, Penunjukan langsung, Penyedia tak teridentifikasi, Placeholder alutsista, Koperasi TNI, RUP metode, RUP unit, RUP 500 terbesar).*
